Senin, 13 Maret 2017

PERJALANAN POLITIK

BAGIAN KEDUA

PERJUANGAN INTRAPARLEMEN LEWAT PARTAI


Dalam pemilu 1999, saya dicalonkan oleh PDIP sebagai Caleg DPRRI no. 2 dari Kota Bogor. Saat itu saya belum berambisi jadi anggota DPR. Yang terpenting bagi saya adalah menjamin agar kekuatan pro demokrasi tampil sebagai pemenang dan membentuk pemerintahan. Pemili 1999 tidak menghasilkan pemenang. Tak ada satu pun dari 48 partai yang mampu mencapai mayoritas suara. PDIP adalah partai dengan perolehan suara tertinggi, Dalam Negara yang menganut system parlementer partai yang memperoleh suara terbanyak berhak mendudukan pimpinannya sebagai kepala pemerintahan.

 Politik dagang sapi dan tekanan ekstraparlementer pun mewarnai Sidang Umum MPR 1999. Di kubu anti reformasi terdapat laskar-laskar bentukan militer, sperti Pam Swakarsa. Sadar bahwa demokrasi berada dalam ancaman, saya pun segera membentuk lascar di bawa payung PDIP. Laskar ini saya beri nama Brigade Siaga Satu. ( Barisan Penjaga Demokrasi, Siap Antar Mega Menjadi RI Satu). Brigass, laskar ini biasa disebut, memang dirancang untuk memberi tekanan ekstrapalementer pembanding bagi tekanan-tekanan ekstraparlementer yang berasal dari kubu anti reformasi.
SU MPR 1999 akhirnya memutuskan Gus Dur dan Megawati sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Brigass tetap dilanjutkan dan dibangun sebagai ormas. Banyak pihak yang kemudian melancarkan isu bahwa brigass di biayai oleh Prabowo dan dilatih oleh Tim Mawar. Sebuah isu yang berlebihan dan menyesatkan. Brigass dibangun murni dari sumbangan kawan-kawan PDIP. Sebagai bagian dari kekuasaan, tentu tidak sulit menggalang dana untuk mengelola Ormas. Kecaman juga datang dari kawan-kawan sesama aktivis, “ Pius yang dulu anti militer kini membangun kekuatan para militer. Mereka lupa bahwa demokrasi membolehkan penggunaan kekerasan (kekuatan militer atau para militer) sepanjang untuk demokrasi.

Dari tahun 1999 – 2004 saya disibukan dengan kegiatan membangun Brigass. Di akhir tahun 2003 anggota Brigade – Brigass telah mencapai jumlah hampir 12.000 orang. Brigade – Brigass rutin melakukan perekrutan anggota lewat sekolah gratis pesamaan, pendidikan politikm pelatihan beladiri Merpati Putih, Pendidikan Satpam, dan penyaluran kerja. Brigas pun pelan-pelan “menjinakan diri” ketika era laskar sudah berlalu. Sebagai gantinya, sejak tahun 2001, Brigass mendirikan PT Brigass Trilanang Security. Sampai saat ini PT Brigass telah berhasil menyalurkan kerja ribuan anggotanya.

Memiliki Ormas dengan anggota cukup banyak ternyata bukan jaminan uuntuk 
mendapatkan posisi empuk di PDIP. Saya merasa kadang-kadang bahkan dianggap sebagai ancaman oleh kawan-kawan struktural. Merekea yang irih melihat kedekatan saya dengan Taufik Kiemas dan megawati pun banyak melancarkan fitnaan. Pada pemilutahun 2004 saya “ dibuang “ saya tetap loyal kepada PDIP dan tetap berkampanye untuk memenangkan pemilu. Meskipun nomor buntut, saya terpilih menjadi caleg popular dari dapil saya. Dalam Pilpres pun saya tetap membela mati-matian panji PDIP.


Baru pada saat kongres PDIP januari 2005 di bali saya beserta kawan-kawan PDIP lain bersuara kritis. Gagal merebut kepemimpinan PDIP, saya bersama Roy B.B Janis, Laksamana Soekardi, Arifin Panigoro, dll, berinisiatif membangun Gerakan Pembaruan PDIP. Megawati menjawab gerakanini denganmelakukan pemecatan terhadao 12 tokoh gerakan pembaruan, termasuk saya.
Setelah pemecatan, sayan dan kawan-kawan yang dipecat memproklamirkan berdirinya Partai Demokrasi Pembaruan pada 1 Desember 2005. Sayang keterlibatan saya dalam PDP tidak berlangsung lama. Roy dan Laksamana Sukardi akhirnya memecat kembali rekan seperjuangannya lantaran hanya berbeda pendapat. Saya bersama Arifin Panigoro, Adam Wahab, Yurizki, Zulvan Lindan, Enggelina Pattiasina, Tari Siwi, dan I Ketut Bagiada adalah pimpinan kolektif yang pada agustus 2007.

Setelah melawan sebentar lewat PDIP tandingan, akhirnya mereka dipecat pun memilih membangun partai baru. Sayangnya kekuatan ini tidak lagi kompak dan terpisah menjadi empat bagian: Zulfan bergabung dengan PNKB, Adam, Yusrizki dan Engelina bikin Partai Pembaruan Bangsa, Tari dan Ketut bikin Partai Kebangsaan Nasional, sementara saya sendiri memili untuk membangun Partai Persatuan Nasional (PPN).

Sebelum saya memutuskan membangun (PPN), saya suda mendengar bahwa Prabowo akan membangun partai dari sala seorang kawan aktivis. Saya pun segera mengontak Prabowo dan menceritakan bahwa saya sudah tidak lagi punya kendaraan politik. Prabowo saat itu meminta saya menghubungi Fadli Zon berniat membangun oartai yang pengurusnya mayoritas anak-anak muda.

Saya pun segera menemui Fadli Zon dan berniat menggabungkan kekuatan PDP yang sempat saya galang dengan partai yang akan didirikannya. Namun tiba-tiba Fadli Zon sakit cukup parah dan komunikasi pun terputus, Didesak oleh kawan-kawan daerah, saya pun akhirnya mendirikan PPN pada tanggal 18 Desember 2007. PPN pun kemudian mendaftarkan diri pada Januari 2008. Ketika PPN sedang bersiap verifikasi, Prabowo meminta saya untuk bergabung ke Gerindra yang mendaftar belakangan. Karena sudah terlanjur punya partai sendiri tentu saja saya tidak dapat memenuhi permintaan Prabowo.


Baru setelah PPN tidak berhasil lolos verifikasi Depkumham, kesempatan untuk bergabung dengan Gerindra kembali terbuka. Sebetulnya saya berniat menggabungkan pengurus daerah yang telah bentuk kedalam Gerindra. Tapi karena alas an keruwetan administrative, saya diminta menunggu setelah Gerindra lolos verifikasi KPU. Baru setelah Gerindra lolos Verivikasi KPU, Prabowo meminta saya kembali untuk bergabung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar