Anak Suku Lanang
Kunjungan Pius Lustrilanang ke Kabupaten Lembata tidak
disia-siakan oleh suku Lanang, Pius diterima suku Lanang, desa Posiwatu, Kec.
Wulandoni Kab. Lembata. Secara khusus masyarakat mengadakan ritual pemanggilan
masuk secara adat sebagai anggota suku Lanang di rumah adat Lanang.
Pius Lustrilanang tiba digerbang masuk rumah adat suku Lanang, seluruh anggota
keluarga bersar suku Lanang yang menunggu sejak pagi bergegas menghampirinya.
Sementara tetua adat mempersiapkan ritual adat mempersiapkan ritual pemanggilan
masuk rumah adat.
Ibu-ibu
berbaris mengapit tetua adat suku Lanang melangkah keluar rumah menghampiri
Pius Lustrilanang. Persis di atas pematang ( terssa batu ) kedua, Pius
Lustrilanang dan barisa tetua adat berdiam sejenak. Untaian kata mantra adat
dilantunkan sang dukun yang juga tetua suku, Aleksander Doni Lanang.
Sapaan
adat memanggil hadir arwah leluhur suku dan leluhur lewo tana, lera wulan tana
ekan, hadir untuk merestui langsung kedatangan Pius Lustrilanang. Mantra-mantra
adat pun didaraskan seolah telah beratus-ratus tahun lamanya mereka berpisah.
Sebagaimana kisah anak hilang, acara itu sungguh mengharukan. Banyak warga menitikan air
mata suka cita. Semua berpelukan, merasa satu dan sedarah, setelah ritual
baulolong, minum tuak, makan sirih pinang dan isap tembakau, acara selesai.
Pius
Lustrilanang sudah berada di dalam rumah adat suku Lanang Posiwatu. Semua warga
datang menyalami, berpeluk dan menangis. Kini langkah kedua, langkah inti
adalah memasuki kamar mesbah leluhur untuk diberi pakaian adat tana resmi
menjadi warga (anak) suku Lanang, yang disaksikan roh leluhur suku.
Semua
proses perjalanan begitu hening dan tidak ada tanda-tanda kalau ritual
oemanggilan masuk anak Pius Lustrilanang itu salah. “ Saat
kita buat acara ada tadi tidak ada unyi suara cecak yang menggelutuk. Ini tanda
sangat baik. Artinya acara ini benar karena didasari ketulusan hati kedua
pihak. Ama Pius sungguh dari hati, tidak buat-buat dan kita warga suku Lanang
juga mau terima dia dengan hati, sehingga roh leluhur kita pun sungguh
merestui,” ungkap Anton Dolet Lanang, tetua adat suku Lanang.
Perayaan
dilanjutkan dengan acara makan bersama, ayam lawar, jagung titi garing, kacang
tanah goring dan tuak menghampar di meja untuk dinikmati bersama. Pius harus
berpamitan karena akan bertemu warga di balai desa, dan akan kembali ke rumah
adat ini di waktu mendatang.
Tanpa
diduga pula kalau sejumlah warga dan ibu-ibu bersarung berbaju kebaya menanti
Pius Lustrilanang di depan pintu masuk balai desa. Pemerintahan posiwatu secara
resmi menerima Pius dengan pengalungan selendang sarung khas posiwatu. Bersama
camat Wulandoni, Benediktu Making dan kepala desa Posiwatu Dominikus Dai
Lanang, Pius memasuki ruang balai desa.
Dalam
pertemuan ini kepala desa menyampaikan tiga permasalahan yang menjadi kebutuhan
mendesak masyarkat : Kebutuhann air minum ,listrik yang suda ada jaringannya
tetapi belum ada meteran dan jaringan induk , serta rehabilitasi banguna gereja
Posiwatu.
“
Sebagai anak tanah Posiwatu saya akan berusahan memenuhi ketiga kebutuhan ini,:
kata Pius Lustrilanang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar