Senin, 06 Maret 2017

ASAL USUL

Anak Suku Lanang

Kunjungan Pius Lustrilanang ke Kabupaten Lembata tidak disia-siakan oleh suku Lanang, Pius diterima suku Lanang, desa Posiwatu, Kec. Wulandoni Kab. Lembata. Secara khusus masyarakat mengadakan ritual pemanggilan masuk secara adat sebagai anggota suku Lanang di rumah adat Lanang.

                Pius Lustrilanang tiba digerbang masuk rumah adat suku Lanang, seluruh anggota keluarga bersar suku Lanang yang menunggu sejak pagi bergegas menghampirinya. Sementara tetua adat mempersiapkan ritual adat mempersiapkan ritual pemanggilan masuk rumah adat.
                Ibu-ibu berbaris mengapit tetua adat suku Lanang melangkah keluar rumah menghampiri Pius Lustrilanang. Persis di atas pematang ( terssa batu ) kedua, Pius Lustrilanang dan barisa tetua adat berdiam sejenak. Untaian kata mantra adat dilantunkan sang dukun yang juga tetua suku, Aleksander Doni Lanang.

                Sapaan adat memanggil hadir arwah leluhur suku dan leluhur lewo tana, lera wulan tana ekan, hadir untuk merestui langsung kedatangan Pius Lustrilanang. Mantra-mantra adat pun didaraskan seolah telah beratus-ratus tahun lamanya mereka berpisah.

                Sebagaimana kisah anak hilang, acara itu sungguh mengharukan. Banyak warga menitikan air mata suka cita. Semua berpelukan, merasa satu dan sedarah, setelah ritual baulolong, minum tuak, makan sirih pinang dan isap tembakau, acara selesai.

                Pius Lustrilanang sudah berada di dalam rumah adat suku Lanang Posiwatu. Semua warga datang menyalami, berpeluk dan menangis. Kini langkah kedua, langkah inti adalah memasuki kamar mesbah leluhur untuk diberi pakaian adat tana resmi menjadi warga (anak) suku Lanang, yang disaksikan roh leluhur suku.

                Semua proses perjalanan begitu hening dan tidak ada tanda-tanda kalau ritual oemanggilan masuk anak Pius Lustrilanang itu salah.  “ Saat kita buat acara ada tadi tidak ada unyi suara cecak yang menggelutuk. Ini tanda sangat baik. Artinya acara ini benar karena didasari ketulusan hati kedua pihak. Ama Pius sungguh dari hati, tidak buat-buat dan kita warga suku Lanang juga mau terima dia dengan hati, sehingga roh leluhur kita pun sungguh merestui,” ungkap Anton Dolet Lanang, tetua adat suku Lanang.

                Perayaan dilanjutkan dengan acara makan bersama, ayam lawar, jagung titi garing, kacang tanah goring dan tuak menghampar di meja untuk dinikmati bersama. Pius harus berpamitan karena akan bertemu warga di balai desa, dan akan kembali ke rumah adat ini di waktu mendatang.

                Tanpa diduga pula kalau sejumlah warga dan ibu-ibu bersarung berbaju kebaya menanti Pius Lustrilanang di depan pintu masuk balai desa. Pemerintahan posiwatu secara resmi menerima Pius dengan pengalungan selendang sarung khas posiwatu. Bersama camat Wulandoni, Benediktu Making dan kepala desa Posiwatu Dominikus Dai Lanang, Pius memasuki ruang balai desa.

                Dalam pertemuan ini kepala desa menyampaikan tiga permasalahan yang menjadi kebutuhan mendesak masyarkat : Kebutuhann air minum ,listrik yang suda ada jaringannya tetapi belum ada meteran dan jaringan induk , serta rehabilitasi banguna gereja Posiwatu.

                “ Sebagai anak tanah Posiwatu saya akan berusahan memenuhi ketiga kebutuhan ini,: kata Pius Lustrilanang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar