Senin, 13 Maret 2017

PERJALANAN POLITIK

BAGIAN KEDUA

PERJUANGAN INTRAPARLEMEN LEWAT PARTAI


Dalam pemilu 1999, saya dicalonkan oleh PDIP sebagai Caleg DPRRI no. 2 dari Kota Bogor. Saat itu saya belum berambisi jadi anggota DPR. Yang terpenting bagi saya adalah menjamin agar kekuatan pro demokrasi tampil sebagai pemenang dan membentuk pemerintahan. Pemili 1999 tidak menghasilkan pemenang. Tak ada satu pun dari 48 partai yang mampu mencapai mayoritas suara. PDIP adalah partai dengan perolehan suara tertinggi, Dalam Negara yang menganut system parlementer partai yang memperoleh suara terbanyak berhak mendudukan pimpinannya sebagai kepala pemerintahan.

 Politik dagang sapi dan tekanan ekstraparlementer pun mewarnai Sidang Umum MPR 1999. Di kubu anti reformasi terdapat laskar-laskar bentukan militer, sperti Pam Swakarsa. Sadar bahwa demokrasi berada dalam ancaman, saya pun segera membentuk lascar di bawa payung PDIP. Laskar ini saya beri nama Brigade Siaga Satu. ( Barisan Penjaga Demokrasi, Siap Antar Mega Menjadi RI Satu). Brigass, laskar ini biasa disebut, memang dirancang untuk memberi tekanan ekstrapalementer pembanding bagi tekanan-tekanan ekstraparlementer yang berasal dari kubu anti reformasi.
SU MPR 1999 akhirnya memutuskan Gus Dur dan Megawati sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Brigass tetap dilanjutkan dan dibangun sebagai ormas. Banyak pihak yang kemudian melancarkan isu bahwa brigass di biayai oleh Prabowo dan dilatih oleh Tim Mawar. Sebuah isu yang berlebihan dan menyesatkan. Brigass dibangun murni dari sumbangan kawan-kawan PDIP. Sebagai bagian dari kekuasaan, tentu tidak sulit menggalang dana untuk mengelola Ormas. Kecaman juga datang dari kawan-kawan sesama aktivis, “ Pius yang dulu anti militer kini membangun kekuatan para militer. Mereka lupa bahwa demokrasi membolehkan penggunaan kekerasan (kekuatan militer atau para militer) sepanjang untuk demokrasi.

Dari tahun 1999 – 2004 saya disibukan dengan kegiatan membangun Brigass. Di akhir tahun 2003 anggota Brigade – Brigass telah mencapai jumlah hampir 12.000 orang. Brigade – Brigass rutin melakukan perekrutan anggota lewat sekolah gratis pesamaan, pendidikan politikm pelatihan beladiri Merpati Putih, Pendidikan Satpam, dan penyaluran kerja. Brigas pun pelan-pelan “menjinakan diri” ketika era laskar sudah berlalu. Sebagai gantinya, sejak tahun 2001, Brigass mendirikan PT Brigass Trilanang Security. Sampai saat ini PT Brigass telah berhasil menyalurkan kerja ribuan anggotanya.

Memiliki Ormas dengan anggota cukup banyak ternyata bukan jaminan uuntuk 
mendapatkan posisi empuk di PDIP. Saya merasa kadang-kadang bahkan dianggap sebagai ancaman oleh kawan-kawan struktural. Merekea yang irih melihat kedekatan saya dengan Taufik Kiemas dan megawati pun banyak melancarkan fitnaan. Pada pemilutahun 2004 saya “ dibuang “ saya tetap loyal kepada PDIP dan tetap berkampanye untuk memenangkan pemilu. Meskipun nomor buntut, saya terpilih menjadi caleg popular dari dapil saya. Dalam Pilpres pun saya tetap membela mati-matian panji PDIP.


Baru pada saat kongres PDIP januari 2005 di bali saya beserta kawan-kawan PDIP lain bersuara kritis. Gagal merebut kepemimpinan PDIP, saya bersama Roy B.B Janis, Laksamana Soekardi, Arifin Panigoro, dll, berinisiatif membangun Gerakan Pembaruan PDIP. Megawati menjawab gerakanini denganmelakukan pemecatan terhadao 12 tokoh gerakan pembaruan, termasuk saya.
Setelah pemecatan, sayan dan kawan-kawan yang dipecat memproklamirkan berdirinya Partai Demokrasi Pembaruan pada 1 Desember 2005. Sayang keterlibatan saya dalam PDP tidak berlangsung lama. Roy dan Laksamana Sukardi akhirnya memecat kembali rekan seperjuangannya lantaran hanya berbeda pendapat. Saya bersama Arifin Panigoro, Adam Wahab, Yurizki, Zulvan Lindan, Enggelina Pattiasina, Tari Siwi, dan I Ketut Bagiada adalah pimpinan kolektif yang pada agustus 2007.

Setelah melawan sebentar lewat PDIP tandingan, akhirnya mereka dipecat pun memilih membangun partai baru. Sayangnya kekuatan ini tidak lagi kompak dan terpisah menjadi empat bagian: Zulfan bergabung dengan PNKB, Adam, Yusrizki dan Engelina bikin Partai Pembaruan Bangsa, Tari dan Ketut bikin Partai Kebangsaan Nasional, sementara saya sendiri memili untuk membangun Partai Persatuan Nasional (PPN).

Sebelum saya memutuskan membangun (PPN), saya suda mendengar bahwa Prabowo akan membangun partai dari sala seorang kawan aktivis. Saya pun segera mengontak Prabowo dan menceritakan bahwa saya sudah tidak lagi punya kendaraan politik. Prabowo saat itu meminta saya menghubungi Fadli Zon berniat membangun oartai yang pengurusnya mayoritas anak-anak muda.

Saya pun segera menemui Fadli Zon dan berniat menggabungkan kekuatan PDP yang sempat saya galang dengan partai yang akan didirikannya. Namun tiba-tiba Fadli Zon sakit cukup parah dan komunikasi pun terputus, Didesak oleh kawan-kawan daerah, saya pun akhirnya mendirikan PPN pada tanggal 18 Desember 2007. PPN pun kemudian mendaftarkan diri pada Januari 2008. Ketika PPN sedang bersiap verifikasi, Prabowo meminta saya untuk bergabung ke Gerindra yang mendaftar belakangan. Karena sudah terlanjur punya partai sendiri tentu saja saya tidak dapat memenuhi permintaan Prabowo.


Baru setelah PPN tidak berhasil lolos verifikasi Depkumham, kesempatan untuk bergabung dengan Gerindra kembali terbuka. Sebetulnya saya berniat menggabungkan pengurus daerah yang telah bentuk kedalam Gerindra. Tapi karena alas an keruwetan administrative, saya diminta menunggu setelah Gerindra lolos verifikasi KPU. Baru setelah Gerindra lolos Verivikasi KPU, Prabowo meminta saya kembali untuk bergabung.

Selasa, 07 Maret 2017

KESAKSIAN

Yesus Menggantikan Saya di Sel

Doa dan dukungan Ibu. Faktor keberanian Pius Bersaksi
Tanpa melepas kalung salib yang selalu menggantung di lehernya, Pius memberi kesaksian di depan Komnas HAM, bahkan dunia Internasional, Perlu keberanian yang besar untuk melakukannya, Karena kemana pin ia pergi, selalu diincar laras peluru. Pius yakin, bukan dia yang berbuatm melainkan Yesus, Yesus-lah yang menggantikan dirinya meringkuk di sel yang di diami selama kurang lebih 2 bulan, Berikut kesaksian Pius di depan 15 ribu umat Kristiani di Istora Senayan, 6 September 1998, yang ditulis dengan gaya saya.
                Saya bahagia sekali bisa hadir disini untuk sharing pengalan iman saya. Kiranya pengalan  ini dapa menguatkan iman kita semua.
                Pada tanggal 4 Februari 1998, saya diculik ketika sedang menunggu bus di depan Rumah Sakit Carolus. Saya diangkut oleh orang bersenjata dan dibawa kesuatu tempat dan kemudian diinterogsi. Saya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Disetrum, dipukuli, kemudian di sel pun masih mendapat perlakuan yang sangat tidak beradab.
                Setelah melalui hari pertama yang penu kegoncanganm saya merenung sebentarm kemudan saya pasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Saya percaya penuh bahwa Tuahan adala satu0satunya penolong saya.  Saya menduga, orang yang menculik saya ini diperintah oleh Soeharto. Lalu saya berkata dalam hati: “ Soeharto kamu bisa punya uang, kamu bisa punya kekuasaan, kamu bisa punya tentara, dan kamu bisa memerintahkan apa pun terhadap saya. Tetapi jika Tuhan saya berkehendak kamu akan kalah.” (Tepuk tangan meriah).
                Teman-teman seiman, mohon maaf, saya sudah sering memberi kesaksian semacam ini, Tetapi setiap kali saya memberi kesaksian saya selalu terharu (mata Pius membasah dan ia berhenti lama). Karena saya tahu bahwa saya selamat hanya karena Tuhan. Jejak-jejak Tuhan dalam kesaksian dan perjuangan saya itu begitu jelas sehingga setiap kali mengingatnya, saya semakin terharu (suara Pius tersedak menahan air mata).
                Pada hari kedua, setelah saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, saya berdoa. Saya hanya dapat berdia karena di sana tidak ada satu buku pun atau injil yang bisa dibaca . Dalam doa, saya senatiasa menyerahkan diri pada Tuhan, dan saya minta dukungan Tuhan agar saya tetap setia, dan siap menerima penderitaan ini sebagi anugerah dari Tuhan. Dulu kebiasaan saya, bersyukur jetika mendapat kebahagiaan, rejeki atau keberuntungan. Sebaliknya marah kepada Tuhan kalau saya mengalami penderitaan.
                Kemudian saya juga belajar bagaimana saya tetao bersyukur  ketika menerima penderitaan dan siksaan, karena saya yajin aoabila saya kuat menerima cobaan maka di ujungnya Tuhan akan memberi kebahagiaan, keleluasaan kepada saya.
                Meski berada dalam suasana tidak menentu dan hidup dititik antara hidup dan mati hampir setiap hari. Saya percaya bahawa Tuhan yang memanggil saua itu setia.
                Lama-lama timbul pengharapan bahwa saya akan bebas. Tetapi saya tekan betul harapan ini dan tetap pasrah agar siap menghadapi segaka risiko. Karena saya yakin, klau saya punya harapan yang berlebihan untuk bebas, itu hanya akan menyiksa diri. Karena saya tahu tidak ada alsan pun yang bisa mengarah kepada upaya pembebasan ini. Hal ini bisa dimaklumi karena saya diculik bukan ditangkap secara legal, dan mereka bis berbuat apa pun terhadap saya tanpa takut risiko.
Minta Mimpi
                Setelah Sidang Umum MPR selesai, pengharapan untuk bebas itu semakin besar, tapi, toh tidak datang juga. Saya hanya berdoa dengan sisa pengharapan yang ada. Doaku, “Tuhan beri saya petunjuk, dengan mimpi atau apa saja agar saya bisa tahu, saya bisa bebas atau tidak.” Ada beberapa mimpi yang saya terima selama saya di tahan. Semua mimpi ini saya artikan, saya bakal bebas. Tetapi saya belum yakin juga. Maka saya minta Tuhan memberi mimpi yang sederhana yang saya dapat artikan, mimpi yang tidak rumit-rumit.
                Beberapa saat kemudian saya mendapat anugerah mimpi. Dalam mimpi itu saya seakan-akan sedang bersiap-siap pergi naik haji. Mimpinya aneh. Saya berada di barisan yang siap naik pesawat. Seingat saya, saya duduk di deretan nomor dua paling belakang. Ketika sedang di briefing, tiba-tiba ada yang protes. Awalnya protes itu tidak dihiraukan oeh orang yang memberi briefing. Lalu, orang yang protes tadi ngotot masuk kedalam barisan, kemudian datang dari belakang saya. Saya lihat tempat duduk itu kosong, dia marah-marah dan menunjuk sesuatu. Katanya, “ Yang itu beda, enggak boleh ikut,” saya lihat, ternyata dia sedang menunjuk gambar dan itu gambar Tuhan Kita: Yesus Kristus. Lewat mimpi ini saya yakin bahwa saya nanti bisa bebas.
                Mimpi ini saya komunikasikan dengan teman-teman sebelah sel saya, yaitu Waluyo Jati dan Haryanto Taslam. Mimpi ini menjadi alat bagi kami untuk mengukur apakah kami punya harapan untuk bebas karena di sana tidak ada alasan rasional apapun yang  menjadi dasar ataupun patokan kapan kami akan bebas. Yang ada hanya bagaimana perasaan kami apakah kami akan bebas. Itu saja.
                Jadi ketika suatu saat Taslam bertanya lagi, “ Gimana Pius hari ini?”
                Saya jawab, “ Baik, Pak”
                “ Kapan kita bebas?”
                Saya jawab, “ Kloter terakhir, Pak.”
                Kebetulan waktu itu kan musim haji dan saya percaya bahwa karena saya berdiri di urutan belakang, saya mengartikan pada saat saya bebas nanti bertepatan dengan pemberangkatan haji kloter terakhir. Karena waktu itu masih lama, Pak Haryanto Taslam bilang, “ Waduh kok masih lama?”
Lalu saya bilang, “ Ya sudah, Pak. Mungkin malam ini. “Tapi, saya tetap yakin kemungkinan besar pada saat kloter terakhir tersebut.
                Beberapa hari sebelum kloter terakhir diberangkatkan, saya berjanji di dalam diri sendiri: Tuhan bila mimpi ini benar dan saya bebas pada saat kloter terakhir, saya berjanji kepada-Mu, mimpi ini akan saya ceritakan kepada banyak orang.
                Benar saja, pada tanggal-tanggal itu, saya mendapat kepastian bebas setelah saya dikeluarkan tiga kalinya dari sel: pagi, siang, dan malam, untuk bebas, maka ada tiga persyaratan yang diajukan penculik. “ Pertama, saya akan dibebaskan, tetapi tidak boleh bicara kepada siapa pun. Kemudian, saya tidak boleh mengadakan konferensi pres. Ketiga, saya harus tetap berada di Palembang sampai ada instruksi lebih lanjut.
                Saya baru dibebaskan pada tanggal 3 April. Keesokan harinya. Segera setelah bebas, saya menghubungi sala seorang teman untuk mengecek apakah beberapa orang yang sudah dibebaskan itu masih ada atau tidak, Dari enam orang yang sudah dibebaskan, yakni Noval, Ismail, Dedy Hamdun, Ryan dan Sony ternyata saat ini mereka belum pulang. Saat itu saya berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada mereka. Saya lalu ingat ancaman dari penculik sebelumnya. Kata mereka, ada orang yang keluar hidup dan ada yang keluar mati dari tempat itu, Ketika saya bebas, saya diminta bersyukur pada Tuhan. Menurut mereka, tuhan sudah menggerahkan diskusi mereka sehingga saya diputuskan untuk bebas. “ Dan supaya kamu tahu, Pius,” kata mereka, “bahwa keputusan untuk mengeksekusi orang dilakukan dengan sangat selektif.”
                Seminggu pertama setelah dibebaskan saya dipenuhi kebimbangan. Saya bimbang apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak. Kalau saya bersaksi saya harus berani menanggung resiko.
                Kebetulan, pada saat itu menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, saya merasakan itu merupakan puncak kegelisahan apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak.
                Saya pergi ke Gereja, tapi tidak bisa konsentrasi pada mias. Tiba saatnya liturgi  penghormatan pada salib, saya ikut berbaris. Saya mencium kaki Yesus lalu saya kembali berdoa.
                Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan, bunyinya,”Pius, kalau Saya saja mau mengorbankan diri untuk menebus dosa manusia, dan sekali lagi mengorbankan diri agar kamu bisa keluar dan berkumpul bersama keluarga , kenapa kamu tidak mau mengorbankan hidupmu agar mereka yang masih di dalam bisa keluar bebas seperti kamu dan yang masih berjuang tidak mengalami nasib seperti kamu?”
     Tiba-tiba saya sadar. Dengan bisikan ini berarti Tuhan menugaskan saya untuk bicara. Saya yakin bahwa saya harus bicara.
     Lalu, sepulang misa saya meminta diadakan rapat keluarga. Saya bilang pada ibu, “ Bu.. Saya akan memberikan kesaksian.” Ibu spontan menjawab, “ jangan. Tunggu yang lain bebas dulu. Kamu harus bergandengan tangan supaya kuat kesaksianmu.”
       Ya, Tapi hari ini saya sudah memutuskan akan memberi kesaksian. Saya merasa Tuhan menjadikan saya sebagai alat untuk memberikan kebenaran.
      "Waduh, Kalau kamu mau dijadikan alat sama Tuhan, Kayaknya kamu lebih baik aktif digereja dab persejutuan dia,” sangah Ibu.                              Lalu saya bilang, “Talenta orang kan lain-lain,”
            “ Kamu Siap? Risikonya diekseskusi setiap saat. Kamu siap?”
                ‘ Kalau begitu, mulai sekarang ibu hanya akan berdoa agar sewaktu-waktu kamu dieksekusi, kamu sudah siap.”
                Setela itu ibu langsung memeluk saya, “ Duh,nak baru ngumpul seminggu kok harus pisah lagi.”
                Segera setela itu saya mengontak teman-teman untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya tetap percaya dan saya menyiapkan sebuah doa yang ditemukan ibu pada saat beliau tahu bahwa saya hilang, yaitu Mazmur 27. Mazmur 27. Mazmur inilah yang menguatkan saya. Seorang yang berada dalam pengejaran, yang diburu, tetapi dia tetap yakin karena perlindungan Tuhan. Imanuel.


Disalin dari Majalah bahana
No. 006 Vol. 92/Desember 1998

Senin, 06 Maret 2017

SOSOK

Ia Memilih Bicara, Walau Harus Mati


Pada Tanggal 27 April di Komnas HAM, Pius Lustrilanang
 memberikan kesaksian mengenai penculikan yang terjadi
terhadap sejumlah aktivis.

NAMA Pius Lustrilanang melambung.. Wajahnya menghiasi hamoir semua media cetak nasional, Apalagi setela dengan berani  membeberkan kisah penyiksaan yang dialaminya selama dua bulan diculik oleh kelompok orang tak dikenal, di depan anggota Komnas HAM, Nayjen (purn) Samsudin dan Albert hasibuan, serta puluhan wartawan dalam dan luar negri, senin 27 April 1998. Pius, Sekretaris jendral solidaritas Indonesia untuk Amien dan Megawati (Siaga) akhirnya angkat bicara. Dengan  kalimat terbata-bata, dan meneteskan air mata, ia bercerita tentang apa yang dilaami selama berada di sel.
                Dengan ekspresi wajah yang serius dan tegang, Pius berkisah bahwa dirinya disiksa, diestrum, ditelanjangi di suatu tempat yang sampai sekarang tidak dikatahui pasti entah di mana. Jalan ini yang mungkin mengubah hidup Pius. Ia harus meninggalkan Indonesia, negeri yang ia cintai, ke negeri Belanda. Pada awalnya mungkin banyak orang yang tidak oercaya dengan apa yang dilakukan anak  muda kelahiran Palembang, 30 tahun lalu ini. Nyawalah taruhannya yntuk beraksi. Apalagi, setelah diketahui ia berada di Palembang, kepada pers Pius pernah mengatakan bahwa dirinya menghilangselama dua bylan untuk menenangkan firi. Waktu berubah, Piusajhirnya bicara. Dan orang bertanya-tanya, siapa anak muda ini? Ia tidak berasal dari keluarga aktvis, apalagi aktivis polik. Ia terlahir dari pasangan Profesor Djamilus Zainuddin (alm) dan Fransiska Sri Haryatni, Ayahnya, Guru Besar Fakultas Teknik Kimia, Universitas Sriwijaya Palembang, adalah anak pedagang hasil bumi asal padang. Sedangkan ibunya berasa dari keliarga guru dari Yogyakarta.
                “ Tidak adal dalam keluarga kami yang aktif di bidang politik, hanya Pius ini, “ kata Ny. Djamilius, Ibunda Pius. Sang Ibu, sering berdoa agar anak yang lahir dari kandungannya nanti bisa menjadi bintang keluarga. Dan Pius kecil pun, tumbuh menjadi anak kecil yang periang. “ Ia anak pintar omong, ini mungkin menurun dari neneknya yang tangkas berbicara di depan banyak orang, “ Kata Ny. Djamilius kepada TEMPO interaktif.
                Setamat sekolah menengah atas De Brito Yogyakarta (1987), Pius mulai tertarik pada politik. Ia sering bergaul dengan mahasiswwa UGM Yogyakarta yang saat itu tengah dilanda semangat ber-Golongan Putih. Selepas SMA, Pius lebih memilih jurusan Hubungan Internasional Fisipol Universitas Khatolik Parahyangan Bandung ketimbang kuliah di Sastra Prancis Universitas Padjadjaran tempat semula diminatinya juga. Ia lulus dari bandung tahun 1995.
                Pada Tahun 1989, untuk pertama kalinya Pius terjun langsung berdeminstrasi. Ia bergabung dalam Badan  Koordinasi Mahasiswa Bandung, juga ikut membela nasib petani badega, Jawa Barat. Pada tahun 1990, Pius bergabung dengan KPM – URI.
                Tahun 1991, Pius bersama beberapa temannya mendirikan Komite Pergerakan Mahasiswa Bandung atau KPMB. Organisasi ini diikuti sebelas kampus di Bandung. Kemudian pada tahun 1993, Pius merintis Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera), hingga berdirinya pada tahun 1994. Menjelang Sidang Umum MPR, Maret 1998, bersama dengan seniman Ratna Sarumoaet, dan bebrapa aktivis mahasiswa lainnya di Jakarta, Pius yang mengaku kagum akan Soekarno, Hatta, dan Syarir ini mendirikan Solidaritas Indonesia Untuk Amien Rais dan Megawati, disingkat SIAGA. Organisasi itu lahir untuk mendukung Amien dan Mega sebagai calon Presiden dan RI periode 1998-2003.
                Di SIAGA, Pius menjabat sebagai Sekjen. Selama lebih dari Sembilan tahun menjadi demonstran setidaknya suda tiga kali Pius menjadi korban kebringasan aoarat keamanan, Pertama kali ketika membela petani Badega, Jawa Barat. Kedua kalinya, dalam dalam sebuah demonstras mendukung Megawati (Kasus 27 Juli ) di Bandung. Kala itu Pius mendapat luka memar di 14 tempat di sekujur tubuhnya. Dan yang terakhir, adalah penculikan yang sekarang ini.


Disalin dari
http:tempointeraktif.com,

Edisi 09/03-2/Mei/1998

ASAL USUL

Anak Suku Lanang

Kunjungan Pius Lustrilanang ke Kabupaten Lembata tidak disia-siakan oleh suku Lanang, Pius diterima suku Lanang, desa Posiwatu, Kec. Wulandoni Kab. Lembata. Secara khusus masyarakat mengadakan ritual pemanggilan masuk secara adat sebagai anggota suku Lanang di rumah adat Lanang.

                Pius Lustrilanang tiba digerbang masuk rumah adat suku Lanang, seluruh anggota keluarga bersar suku Lanang yang menunggu sejak pagi bergegas menghampirinya. Sementara tetua adat mempersiapkan ritual adat mempersiapkan ritual pemanggilan masuk rumah adat.
                Ibu-ibu berbaris mengapit tetua adat suku Lanang melangkah keluar rumah menghampiri Pius Lustrilanang. Persis di atas pematang ( terssa batu ) kedua, Pius Lustrilanang dan barisa tetua adat berdiam sejenak. Untaian kata mantra adat dilantunkan sang dukun yang juga tetua suku, Aleksander Doni Lanang.

                Sapaan adat memanggil hadir arwah leluhur suku dan leluhur lewo tana, lera wulan tana ekan, hadir untuk merestui langsung kedatangan Pius Lustrilanang. Mantra-mantra adat pun didaraskan seolah telah beratus-ratus tahun lamanya mereka berpisah.

                Sebagaimana kisah anak hilang, acara itu sungguh mengharukan. Banyak warga menitikan air mata suka cita. Semua berpelukan, merasa satu dan sedarah, setelah ritual baulolong, minum tuak, makan sirih pinang dan isap tembakau, acara selesai.

                Pius Lustrilanang sudah berada di dalam rumah adat suku Lanang Posiwatu. Semua warga datang menyalami, berpeluk dan menangis. Kini langkah kedua, langkah inti adalah memasuki kamar mesbah leluhur untuk diberi pakaian adat tana resmi menjadi warga (anak) suku Lanang, yang disaksikan roh leluhur suku.

                Semua proses perjalanan begitu hening dan tidak ada tanda-tanda kalau ritual oemanggilan masuk anak Pius Lustrilanang itu salah.  “ Saat kita buat acara ada tadi tidak ada unyi suara cecak yang menggelutuk. Ini tanda sangat baik. Artinya acara ini benar karena didasari ketulusan hati kedua pihak. Ama Pius sungguh dari hati, tidak buat-buat dan kita warga suku Lanang juga mau terima dia dengan hati, sehingga roh leluhur kita pun sungguh merestui,” ungkap Anton Dolet Lanang, tetua adat suku Lanang.

                Perayaan dilanjutkan dengan acara makan bersama, ayam lawar, jagung titi garing, kacang tanah goring dan tuak menghampar di meja untuk dinikmati bersama. Pius harus berpamitan karena akan bertemu warga di balai desa, dan akan kembali ke rumah adat ini di waktu mendatang.

                Tanpa diduga pula kalau sejumlah warga dan ibu-ibu bersarung berbaju kebaya menanti Pius Lustrilanang di depan pintu masuk balai desa. Pemerintahan posiwatu secara resmi menerima Pius dengan pengalungan selendang sarung khas posiwatu. Bersama camat Wulandoni, Benediktu Making dan kepala desa Posiwatu Dominikus Dai Lanang, Pius memasuki ruang balai desa.

                Dalam pertemuan ini kepala desa menyampaikan tiga permasalahan yang menjadi kebutuhan mendesak masyarkat : Kebutuhann air minum ,listrik yang suda ada jaringannya tetapi belum ada meteran dan jaringan induk , serta rehabilitasi banguna gereja Posiwatu.

                “ Sebagai anak tanah Posiwatu saya akan berusahan memenuhi ketiga kebutuhan ini,: kata Pius Lustrilanang.

SUARA GERINDRA NTT 1