Yesus
Menggantikan Saya di Sel
![]() |
| Doa dan dukungan Ibu. Faktor keberanian Pius Bersaksi |
Tanpa melepas kalung salib yang selalu menggantung di
lehernya, Pius memberi kesaksian di depan Komnas HAM, bahkan dunia
Internasional, Perlu keberanian yang besar untuk melakukannya, Karena kemana
pin ia pergi, selalu diincar laras peluru. Pius yakin, bukan dia yang berbuatm
melainkan Yesus, Yesus-lah yang menggantikan dirinya meringkuk di sel yang di
diami selama kurang lebih 2 bulan, Berikut kesaksian Pius di depan 15 ribu umat
Kristiani di Istora Senayan, 6 September 1998, yang ditulis dengan gaya saya.
Saya
bahagia sekali bisa hadir disini untuk sharing pengalan iman saya. Kiranya
pengalan ini dapa menguatkan iman kita
semua.
Pada
tanggal 4 Februari 1998, saya diculik ketika sedang menunggu bus di depan Rumah
Sakit Carolus. Saya diangkut oleh orang bersenjata dan dibawa kesuatu tempat
dan kemudian diinterogsi. Saya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Disetrum,
dipukuli, kemudian di sel pun masih mendapat perlakuan yang sangat tidak
beradab.
Setelah
melalui hari pertama yang penu kegoncanganm saya merenung sebentarm kemudan
saya pasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Saya percaya penuh bahwa Tuahan
adala satu0satunya penolong saya. Saya
menduga, orang yang menculik saya ini diperintah oleh Soeharto. Lalu saya
berkata dalam hati: “ Soeharto kamu bisa punya uang, kamu bisa punya kekuasaan,
kamu bisa punya tentara, dan kamu bisa memerintahkan apa pun terhadap saya.
Tetapi jika Tuhan saya berkehendak kamu akan kalah.” (Tepuk tangan meriah).
Teman-teman
seiman, mohon maaf, saya sudah sering memberi kesaksian semacam ini, Tetapi
setiap kali saya memberi kesaksian saya selalu terharu (mata Pius membasah dan
ia berhenti lama). Karena saya tahu bahwa saya selamat hanya karena Tuhan.
Jejak-jejak Tuhan dalam kesaksian dan perjuangan saya itu begitu jelas sehingga
setiap kali mengingatnya, saya semakin terharu (suara Pius tersedak menahan air
mata).
Pada
hari kedua, setelah saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, saya berdoa.
Saya hanya dapat berdia karena di sana tidak ada satu buku pun atau injil yang
bisa dibaca . Dalam doa, saya senatiasa menyerahkan diri pada Tuhan, dan saya
minta dukungan Tuhan agar saya tetap setia, dan siap menerima penderitaan ini
sebagi anugerah dari Tuhan. Dulu kebiasaan saya, bersyukur jetika mendapat
kebahagiaan, rejeki atau keberuntungan. Sebaliknya marah kepada Tuhan kalau
saya mengalami penderitaan.
Kemudian
saya juga belajar bagaimana saya tetao bersyukur ketika menerima penderitaan dan siksaan,
karena saya yajin aoabila saya kuat menerima cobaan maka di ujungnya Tuhan akan
memberi kebahagiaan, keleluasaan kepada saya.
Meski
berada dalam suasana tidak menentu dan hidup dititik antara hidup dan mati
hampir setiap hari. Saya percaya bahawa Tuhan yang memanggil saua itu setia.
Lama-lama
timbul pengharapan bahwa saya akan bebas. Tetapi saya tekan betul harapan ini
dan tetap pasrah agar siap menghadapi segaka risiko. Karena saya yakin, klau
saya punya harapan yang berlebihan untuk bebas, itu hanya akan menyiksa diri.
Karena saya tahu tidak ada alsan pun yang bisa mengarah kepada upaya pembebasan
ini. Hal ini bisa dimaklumi karena saya diculik bukan ditangkap secara legal,
dan mereka bis berbuat apa pun terhadap saya tanpa takut risiko.
Minta Mimpi
Setelah
Sidang Umum MPR selesai, pengharapan untuk bebas itu semakin besar, tapi, toh
tidak datang juga. Saya hanya berdoa dengan sisa pengharapan yang ada. Doaku,
“Tuhan beri saya petunjuk, dengan mimpi atau apa saja agar saya bisa tahu,
saya bisa bebas atau tidak.” Ada beberapa mimpi yang saya terima selama saya di
tahan. Semua mimpi ini saya artikan, saya bakal bebas. Tetapi saya belum yakin
juga. Maka saya minta Tuhan memberi mimpi yang sederhana yang saya dapat
artikan, mimpi yang tidak rumit-rumit.
Beberapa
saat kemudian saya mendapat anugerah mimpi. Dalam mimpi itu saya
seakan-akan sedang bersiap-siap pergi naik haji. Mimpinya aneh. Saya berada di
barisan yang siap naik pesawat. Seingat saya, saya duduk di deretan nomor dua
paling belakang. Ketika sedang di briefing, tiba-tiba ada yang protes. Awalnya
protes itu tidak dihiraukan oeh orang yang memberi briefing. Lalu, orang yang
protes tadi ngotot masuk kedalam barisan, kemudian datang dari belakang saya.
Saya lihat tempat duduk itu kosong, dia marah-marah dan menunjuk sesuatu.
Katanya, “ Yang itu beda, enggak boleh ikut,” saya lihat, ternyata dia sedang
menunjuk gambar dan itu gambar Tuhan Kita: Yesus Kristus. Lewat mimpi ini saya
yakin bahwa saya nanti bisa bebas.
Mimpi
ini saya komunikasikan dengan teman-teman sebelah sel saya, yaitu Waluyo Jati
dan Haryanto Taslam. Mimpi ini menjadi alat bagi kami untuk mengukur apakah
kami punya harapan untuk bebas karena di sana tidak ada alasan rasional apapun
yang menjadi dasar ataupun patokan kapan
kami akan bebas. Yang ada hanya bagaimana perasaan kami apakah kami akan bebas.
Itu saja.
Jadi
ketika suatu saat Taslam bertanya lagi, “ Gimana Pius hari ini?”
Saya
jawab, “ Baik, Pak”
“ Kapan
kita bebas?”
Saya jawab,
“ Kloter terakhir, Pak.”
Kebetulan
waktu itu kan musim haji dan saya percaya bahwa karena saya berdiri di urutan
belakang, saya mengartikan pada saat saya bebas nanti bertepatan dengan
pemberangkatan haji kloter terakhir. Karena waktu itu masih lama, Pak Haryanto
Taslam bilang, “ Waduh kok masih lama?”
Lalu saya bilang, “ Ya sudah, Pak. Mungkin malam ini. “Tapi,
saya tetap yakin kemungkinan besar pada saat kloter terakhir tersebut.
Beberapa
hari sebelum kloter terakhir diberangkatkan, saya berjanji di dalam diri
sendiri: Tuhan bila mimpi ini benar dan saya bebas pada saat kloter terakhir,
saya berjanji kepada-Mu, mimpi ini akan saya ceritakan kepada banyak orang.
Benar
saja, pada tanggal-tanggal itu, saya mendapat kepastian bebas setelah saya
dikeluarkan tiga kalinya dari sel: pagi, siang, dan malam, untuk bebas, maka
ada tiga persyaratan yang diajukan penculik. “ Pertama, saya akan dibebaskan,
tetapi tidak boleh bicara kepada siapa pun. Kemudian, saya tidak boleh
mengadakan konferensi pres. Ketiga, saya harus tetap berada di Palembang
sampai ada instruksi lebih lanjut.
Saya
baru dibebaskan pada tanggal 3 April. Keesokan harinya. Segera setelah bebas,
saya menghubungi sala seorang teman untuk mengecek apakah beberapa orang yang
sudah dibebaskan itu masih ada atau tidak, Dari enam orang yang sudah
dibebaskan, yakni Noval, Ismail, Dedy Hamdun, Ryan dan Sony ternyata saat ini
mereka belum pulang. Saat itu saya berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres
terjadi pada mereka. Saya lalu ingat ancaman dari penculik sebelumnya. Kata
mereka, ada orang yang keluar hidup dan ada yang keluar mati dari tempat itu,
Ketika saya bebas, saya diminta bersyukur pada Tuhan. Menurut mereka, tuhan
sudah menggerahkan diskusi mereka sehingga saya diputuskan untuk bebas. “ Dan supaya
kamu tahu, Pius,” kata mereka, “bahwa keputusan untuk mengeksekusi orang
dilakukan dengan sangat selektif.”
Seminggu
pertama setelah dibebaskan saya dipenuhi kebimbangan. Saya bimbang apakah saya
akan memberi kesaksian atau tidak. Kalau saya bersaksi saya harus berani
menanggung resiko.
Kebetulan,
pada saat itu menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, saya merasakan itu
merupakan puncak kegelisahan apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak.
Saya
pergi ke Gereja, tapi tidak bisa konsentrasi pada mias. Tiba saatnya liturgi penghormatan pada salib, saya ikut berbaris. Saya mencium kaki Yesus lalu saya
kembali berdoa.
Tiba-tiba
saya mendengar suara bisikan, bunyinya,”Pius, kalau Saya saja mau mengorbankan
diri untuk menebus dosa manusia, dan sekali lagi mengorbankan diri agar kamu
bisa keluar dan berkumpul bersama keluarga , kenapa kamu tidak mau mengorbankan
hidupmu agar mereka yang masih di dalam bisa keluar bebas seperti kamu dan yang
masih berjuang tidak mengalami nasib seperti kamu?”
Tiba-tiba saya sadar. Dengan bisikan ini berarti Tuhan menugaskan saya untuk bicara. Saya yakin bahwa saya harus bicara.
Tiba-tiba saya sadar. Dengan bisikan ini berarti Tuhan menugaskan saya untuk bicara. Saya yakin bahwa saya harus bicara.
Lalu,
sepulang misa saya meminta diadakan rapat keluarga. Saya bilang pada ibu, “
Bu.. Saya akan memberikan kesaksian.” Ibu spontan menjawab, “ jangan. Tunggu
yang lain bebas dulu. Kamu harus bergandengan tangan supaya kuat kesaksianmu.”
Ya,
Tapi hari ini saya sudah memutuskan akan memberi kesaksian. Saya merasa Tuhan
menjadikan saya sebagai alat untuk memberikan kebenaran.
"Waduh, Kalau kamu mau dijadikan alat sama Tuhan, Kayaknya kamu lebih baik aktif
digereja dab persejutuan dia,” sangah Ibu. Lalu saya bilang, “Talenta orang
kan lain-lain,”
“ Kamu
Siap? Risikonya diekseskusi setiap saat. Kamu siap?”
‘ Kalau
begitu, mulai sekarang ibu hanya akan berdoa agar sewaktu-waktu kamu
dieksekusi, kamu sudah siap.”
Setela
itu ibu langsung memeluk saya, “ Duh,nak baru ngumpul seminggu kok harus pisah
lagi.”
Segera
setela itu saya mengontak teman-teman untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya
tetap percaya dan saya menyiapkan sebuah doa yang ditemukan ibu pada saat
beliau tahu bahwa saya hilang, yaitu Mazmur 27. Mazmur 27. Mazmur inilah yang
menguatkan saya. Seorang yang berada dalam pengejaran, yang diburu, tetapi dia
tetap yakin karena perlindungan Tuhan. Imanuel.
Disalin dari Majalah bahana
No. 006 Vol. 92/Desember 1998


Tidak ada komentar:
Posting Komentar