Selasa, 07 Maret 2017

KESAKSIAN

Yesus Menggantikan Saya di Sel

Doa dan dukungan Ibu. Faktor keberanian Pius Bersaksi
Tanpa melepas kalung salib yang selalu menggantung di lehernya, Pius memberi kesaksian di depan Komnas HAM, bahkan dunia Internasional, Perlu keberanian yang besar untuk melakukannya, Karena kemana pin ia pergi, selalu diincar laras peluru. Pius yakin, bukan dia yang berbuatm melainkan Yesus, Yesus-lah yang menggantikan dirinya meringkuk di sel yang di diami selama kurang lebih 2 bulan, Berikut kesaksian Pius di depan 15 ribu umat Kristiani di Istora Senayan, 6 September 1998, yang ditulis dengan gaya saya.
                Saya bahagia sekali bisa hadir disini untuk sharing pengalan iman saya. Kiranya pengalan  ini dapa menguatkan iman kita semua.
                Pada tanggal 4 Februari 1998, saya diculik ketika sedang menunggu bus di depan Rumah Sakit Carolus. Saya diangkut oleh orang bersenjata dan dibawa kesuatu tempat dan kemudian diinterogsi. Saya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Disetrum, dipukuli, kemudian di sel pun masih mendapat perlakuan yang sangat tidak beradab.
                Setelah melalui hari pertama yang penu kegoncanganm saya merenung sebentarm kemudan saya pasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Saya percaya penuh bahwa Tuahan adala satu0satunya penolong saya.  Saya menduga, orang yang menculik saya ini diperintah oleh Soeharto. Lalu saya berkata dalam hati: “ Soeharto kamu bisa punya uang, kamu bisa punya kekuasaan, kamu bisa punya tentara, dan kamu bisa memerintahkan apa pun terhadap saya. Tetapi jika Tuhan saya berkehendak kamu akan kalah.” (Tepuk tangan meriah).
                Teman-teman seiman, mohon maaf, saya sudah sering memberi kesaksian semacam ini, Tetapi setiap kali saya memberi kesaksian saya selalu terharu (mata Pius membasah dan ia berhenti lama). Karena saya tahu bahwa saya selamat hanya karena Tuhan. Jejak-jejak Tuhan dalam kesaksian dan perjuangan saya itu begitu jelas sehingga setiap kali mengingatnya, saya semakin terharu (suara Pius tersedak menahan air mata).
                Pada hari kedua, setelah saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, saya berdoa. Saya hanya dapat berdia karena di sana tidak ada satu buku pun atau injil yang bisa dibaca . Dalam doa, saya senatiasa menyerahkan diri pada Tuhan, dan saya minta dukungan Tuhan agar saya tetap setia, dan siap menerima penderitaan ini sebagi anugerah dari Tuhan. Dulu kebiasaan saya, bersyukur jetika mendapat kebahagiaan, rejeki atau keberuntungan. Sebaliknya marah kepada Tuhan kalau saya mengalami penderitaan.
                Kemudian saya juga belajar bagaimana saya tetao bersyukur  ketika menerima penderitaan dan siksaan, karena saya yajin aoabila saya kuat menerima cobaan maka di ujungnya Tuhan akan memberi kebahagiaan, keleluasaan kepada saya.
                Meski berada dalam suasana tidak menentu dan hidup dititik antara hidup dan mati hampir setiap hari. Saya percaya bahawa Tuhan yang memanggil saua itu setia.
                Lama-lama timbul pengharapan bahwa saya akan bebas. Tetapi saya tekan betul harapan ini dan tetap pasrah agar siap menghadapi segaka risiko. Karena saya yakin, klau saya punya harapan yang berlebihan untuk bebas, itu hanya akan menyiksa diri. Karena saya tahu tidak ada alsan pun yang bisa mengarah kepada upaya pembebasan ini. Hal ini bisa dimaklumi karena saya diculik bukan ditangkap secara legal, dan mereka bis berbuat apa pun terhadap saya tanpa takut risiko.
Minta Mimpi
                Setelah Sidang Umum MPR selesai, pengharapan untuk bebas itu semakin besar, tapi, toh tidak datang juga. Saya hanya berdoa dengan sisa pengharapan yang ada. Doaku, “Tuhan beri saya petunjuk, dengan mimpi atau apa saja agar saya bisa tahu, saya bisa bebas atau tidak.” Ada beberapa mimpi yang saya terima selama saya di tahan. Semua mimpi ini saya artikan, saya bakal bebas. Tetapi saya belum yakin juga. Maka saya minta Tuhan memberi mimpi yang sederhana yang saya dapat artikan, mimpi yang tidak rumit-rumit.
                Beberapa saat kemudian saya mendapat anugerah mimpi. Dalam mimpi itu saya seakan-akan sedang bersiap-siap pergi naik haji. Mimpinya aneh. Saya berada di barisan yang siap naik pesawat. Seingat saya, saya duduk di deretan nomor dua paling belakang. Ketika sedang di briefing, tiba-tiba ada yang protes. Awalnya protes itu tidak dihiraukan oeh orang yang memberi briefing. Lalu, orang yang protes tadi ngotot masuk kedalam barisan, kemudian datang dari belakang saya. Saya lihat tempat duduk itu kosong, dia marah-marah dan menunjuk sesuatu. Katanya, “ Yang itu beda, enggak boleh ikut,” saya lihat, ternyata dia sedang menunjuk gambar dan itu gambar Tuhan Kita: Yesus Kristus. Lewat mimpi ini saya yakin bahwa saya nanti bisa bebas.
                Mimpi ini saya komunikasikan dengan teman-teman sebelah sel saya, yaitu Waluyo Jati dan Haryanto Taslam. Mimpi ini menjadi alat bagi kami untuk mengukur apakah kami punya harapan untuk bebas karena di sana tidak ada alasan rasional apapun yang  menjadi dasar ataupun patokan kapan kami akan bebas. Yang ada hanya bagaimana perasaan kami apakah kami akan bebas. Itu saja.
                Jadi ketika suatu saat Taslam bertanya lagi, “ Gimana Pius hari ini?”
                Saya jawab, “ Baik, Pak”
                “ Kapan kita bebas?”
                Saya jawab, “ Kloter terakhir, Pak.”
                Kebetulan waktu itu kan musim haji dan saya percaya bahwa karena saya berdiri di urutan belakang, saya mengartikan pada saat saya bebas nanti bertepatan dengan pemberangkatan haji kloter terakhir. Karena waktu itu masih lama, Pak Haryanto Taslam bilang, “ Waduh kok masih lama?”
Lalu saya bilang, “ Ya sudah, Pak. Mungkin malam ini. “Tapi, saya tetap yakin kemungkinan besar pada saat kloter terakhir tersebut.
                Beberapa hari sebelum kloter terakhir diberangkatkan, saya berjanji di dalam diri sendiri: Tuhan bila mimpi ini benar dan saya bebas pada saat kloter terakhir, saya berjanji kepada-Mu, mimpi ini akan saya ceritakan kepada banyak orang.
                Benar saja, pada tanggal-tanggal itu, saya mendapat kepastian bebas setelah saya dikeluarkan tiga kalinya dari sel: pagi, siang, dan malam, untuk bebas, maka ada tiga persyaratan yang diajukan penculik. “ Pertama, saya akan dibebaskan, tetapi tidak boleh bicara kepada siapa pun. Kemudian, saya tidak boleh mengadakan konferensi pres. Ketiga, saya harus tetap berada di Palembang sampai ada instruksi lebih lanjut.
                Saya baru dibebaskan pada tanggal 3 April. Keesokan harinya. Segera setelah bebas, saya menghubungi sala seorang teman untuk mengecek apakah beberapa orang yang sudah dibebaskan itu masih ada atau tidak, Dari enam orang yang sudah dibebaskan, yakni Noval, Ismail, Dedy Hamdun, Ryan dan Sony ternyata saat ini mereka belum pulang. Saat itu saya berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada mereka. Saya lalu ingat ancaman dari penculik sebelumnya. Kata mereka, ada orang yang keluar hidup dan ada yang keluar mati dari tempat itu, Ketika saya bebas, saya diminta bersyukur pada Tuhan. Menurut mereka, tuhan sudah menggerahkan diskusi mereka sehingga saya diputuskan untuk bebas. “ Dan supaya kamu tahu, Pius,” kata mereka, “bahwa keputusan untuk mengeksekusi orang dilakukan dengan sangat selektif.”
                Seminggu pertama setelah dibebaskan saya dipenuhi kebimbangan. Saya bimbang apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak. Kalau saya bersaksi saya harus berani menanggung resiko.
                Kebetulan, pada saat itu menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, saya merasakan itu merupakan puncak kegelisahan apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak.
                Saya pergi ke Gereja, tapi tidak bisa konsentrasi pada mias. Tiba saatnya liturgi  penghormatan pada salib, saya ikut berbaris. Saya mencium kaki Yesus lalu saya kembali berdoa.
                Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan, bunyinya,”Pius, kalau Saya saja mau mengorbankan diri untuk menebus dosa manusia, dan sekali lagi mengorbankan diri agar kamu bisa keluar dan berkumpul bersama keluarga , kenapa kamu tidak mau mengorbankan hidupmu agar mereka yang masih di dalam bisa keluar bebas seperti kamu dan yang masih berjuang tidak mengalami nasib seperti kamu?”
     Tiba-tiba saya sadar. Dengan bisikan ini berarti Tuhan menugaskan saya untuk bicara. Saya yakin bahwa saya harus bicara.
     Lalu, sepulang misa saya meminta diadakan rapat keluarga. Saya bilang pada ibu, “ Bu.. Saya akan memberikan kesaksian.” Ibu spontan menjawab, “ jangan. Tunggu yang lain bebas dulu. Kamu harus bergandengan tangan supaya kuat kesaksianmu.”
       Ya, Tapi hari ini saya sudah memutuskan akan memberi kesaksian. Saya merasa Tuhan menjadikan saya sebagai alat untuk memberikan kebenaran.
      "Waduh, Kalau kamu mau dijadikan alat sama Tuhan, Kayaknya kamu lebih baik aktif digereja dab persejutuan dia,” sangah Ibu.                              Lalu saya bilang, “Talenta orang kan lain-lain,”
            “ Kamu Siap? Risikonya diekseskusi setiap saat. Kamu siap?”
                ‘ Kalau begitu, mulai sekarang ibu hanya akan berdoa agar sewaktu-waktu kamu dieksekusi, kamu sudah siap.”
                Setela itu ibu langsung memeluk saya, “ Duh,nak baru ngumpul seminggu kok harus pisah lagi.”
                Segera setela itu saya mengontak teman-teman untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya tetap percaya dan saya menyiapkan sebuah doa yang ditemukan ibu pada saat beliau tahu bahwa saya hilang, yaitu Mazmur 27. Mazmur 27. Mazmur inilah yang menguatkan saya. Seorang yang berada dalam pengejaran, yang diburu, tetapi dia tetap yakin karena perlindungan Tuhan. Imanuel.


Disalin dari Majalah bahana
No. 006 Vol. 92/Desember 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar